ketika aku memilih berbicara lewat tulisan...

Wednesday, March 30, 2016

Tuhan tersenyum saat aku menangis



Tuhan tersenyum saat aku menangis

            Matahari begitu terik, aku menepi bersama motor “bebek” ku. Duduk di bawah rindangnya pohon. Berkali-kali kutelan tenggorokanku yang kering. Sebuah undangan pernikahan yang ternyata ada di tas pun akhirnya kupakai untuk mengusir gerah. Kugoyangkan bolak-balik tepat di depan wajahku.
            Aku tak peduli jika orang-orang yang berlalu lalang mungkin menatapku aneh. Aku bingung, sedih, galau, pusing, hampir putus asa. Sudah tiga bulan menganggur. Padahal sudah lebih dari sekodi lamaran kusebar. Tapi, nihil. Sempat dipanggil interview di sebuah tempat distributor. Tapi ternyata temanku lebih beruntung. Dia yang diterima kerja. “Kau…harusnya memilih aku…” itu lagu yang sempat aku nyanyikan dalam hati saat gagal  
Sempat juga mendapat panggilan oleh sebuah radio. Panggilan pertama hanya test voice. Kira-kira layak kah suara merduku masuk dapur siaran? Sempat sangat berharap aku lolos, karena kesan pertama masuk ruang siaran aku sangat excited. Tapi setelah menunggu dua minggu aku tak juga mendapat kabar panggilan. Well. It’s mean aku gagal (lagi).
Kulupakan sejenak kegagalan itu ketika tiba-tiba nada BBM berdering di handphoneku. PING...klung...klung…kurang lebih seperti itu bunyinya. Sejenak aku terdiam, tak lama senyum merekah dibibirku. Alhamdulillah…aku baru saja mendapat kabar dari seorang teman yang aku kenal saat test voice di radio. Dia lolos, hanya saja aku baru tahu dari dia kalau ternyata di sana tidak boleh memakai jilbab. Di luar boleh memakai jilbab. Tapi saat siaran tidak boleh, begitu katanya. Entah apa alasannya, yang pasti aku sangat bersyukur. Aku jadi gak galau lagi gagal jadi penyiar di sana.
Aku bangkit, tersenyum. Namun tak lama aku meringis, lapar. Tanpa menunggu lama aku kembali meluncur dengan si “bebek”. Dalam perjalanan aku terus mengucap syukur. Semakin bersyukur ketika kuingat bahwa temanku yang bekerja di distributor pun merasa tidak nyaman karena atasannya non muslim. Dia sulit ketika hendak sholat.
Sempat berfikir jika Tuhan mungkin marah kepadaku. Kenapa aku tidak semudah teman-temanku saat mencari kerja. Ternyata selama ini Tuhan tersenyum saat aku “mengemis” di hadapan-Nya. Terimakasih Allah, kuyakin Engkau akan memberi yang terbaik untukku di waktu yang tepat. Mudah-mudahan tak lama lagi, aamiin…



#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari

2 komentar:

  1. mantap mbk liana. aku tau rasanya jd pengangguran *ehh curcol

    ReplyDelete
  2. Aamiin alllahumma Aamiin.. semoga diberikan yg terbaik dari_Nya mbak

    ReplyDelete

© Liana's Blog, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena