ketika aku memilih berbicara lewat tulisan...

Wednesday, February 17, 2016

Terimakasih telah melepasku (Part 2)



              Ini hari kedua Wira tidak berangkat kerja. Entah apa alasannya, sejak kemarin dia tidak menghubungiku. Akupun enggan untuk menanyakan kabarnya. Kurasa ibu benar, aku tidak seharusnya terlalu mengharapkannya.
Wira memang mengaku bahwa dia menyukaiku. Tak jarang dia menghabiskan waktu denganku. Entah hanya sekedar makan di luar atau mengajakku ke tempat yang belum pernah aku kunjungi. Sejauh ini, aku menilai dia lelaki yang baik. Tapi satu hal yang akhirnya membuatku ragu, dia tidak pernah mengajakku bertemu orang tuanya. Bahkan hingga detik ini, hampir satu tahun kami menjalin kedekatan.
“Nis, kemaren gue ketemu Wira,” tiba-tiba Andre menepuk pundakku.
 “Dimana?”  kami jalan beriringan masuk ke kantor.
“Pas gue dateng di nikahannya Roy,” jawab Andre santai.
“Roy yang staff PE?” tanyaku.
“Iya, gue malah ngobrol-ngobrol sama Wira. Kasian liat dia duduk sendirian di depan kayak tukang parkir, hahaha… cie yang dateng ke nikahan mantan cie…” Andre menggoda.
“Maksud lo?” aku tidak mengerti arah pembicaraan Andre.
“Iya, Windy istrinya Roy kan mantannya Wira. Dia dulu kerja di sini juga, tapi resign. Kayaknya beberapa bulan sebelum lo kerja di sini deh,”
Ya Allah…apa lagi ini? Wira punya mantan di sini? Kenapa dia tidak pernah cerita? Dan kenapa aku harus tahu dari orang lain? Andre tidak mungkin mengarang, aku kenal dia. Apalagi dia lebih dulu kerja di sini. Wajar kalau dia tahu Wira lebih banyak daripada aku.
“Eh Nis, kok bengong? Emang lu gak tau kalo mantannya Wira pernah kerja di sini? Tapi setau gue Windy itu pacarnya Wira pas jaman SMA, terus mereka ketemu lagi pas kerja di sini.
“Sebelum kenal lo, Wira juga pernah suka cewek divisi lain kok. Hahaha…lo pasti gak tau juga kan?” Sifat ceplas ceplos Andre kadang memang bikin sakit hati. Tapi berkat dia juga akhirnya aku tahu tentang masa lalu Wira.
***
            “Kenapa kamu delcon BBM aku? Unfriend facebook aku juga?” tanya Wira tanpa basa-basi. Aku membuka pintu kontrakan lebih lebar, tanpa menyuruhnya masuk.
            “Kurasa itu bukan masalah, toh aku bukan siapa-siapa kamu kan?” jawabku datar.
“Kamu marah sama aku gara-gara aku tidak menghubungi dua hari ini? Nis, aku cuma pengin tahu seberapa besar kamu peduli sama aku. Aku sengaja gak hubungi kamu. Kamu sadar gak selama ini selalu aku yang memulai komunikasi.
“Kamu gak pernah menghubungi aku kalau aku tidak memulai menghubungimu. Dan kemarin aku nunggu kamu. Tapi ternyata kamu sama sekali tidak mengkhawatirkan aku.”
“Oh ya? Kekanak-kanakan sekali kamu, Wir. Bukankah kamu sedang berkabung karena mantan pacarmu menikah? Kenapa? Kamu kehilangan semangat? Sampai tidak masuk kerja?”
“Aku kekanak-kanakan? Berkabung? Apa yang kamu pikirkan, Nis?”
“Sudahlah, aku tidak mau lagi menjalin kedekatan denganmu. Buang-buang waktu !”
“Nis, ada apa denganmu? Aku serius sama kamu. Aku juga sudah bertemu ibu kan?”
“Kamu pembohong, Wir ! Apa kamu lupa? Dulu kamu bilang, kamu sudah tidak punya apapun tentang masa lalu kamu. Foto, kontak, benda-benda, semua. Tapi apa? Nyatanya kamu masih berteman dengan mantan kamu di facebook.”
“Nis, facebook itu kan beda dengan BBM, Whatsapp, sama yang lainnya.”
“Kenapa kamu gak jujur aja? Apapun alasannya, kamu sudah membohongiku, Wir,” aku menunduk, hangat mengalir dari ujung mataku.
“Dan tentang keseriusanmu, nyatanya kamu tak pernah mencoba mengenalkanku pada keluargamu.” Kutepis pipiku yang basah.
“Kamu terlalu egois, Nis. Aku gak sanggup dengan keegoisanmu ini. Kamu gak tau apa yang ada di dalam hatiku, Nis.
“Baiklah, kalau ini yang kamu inginkan. Jika menjauh dariku membuatmu bahagia, pergilah. Maafkan aku tidak sanggup menahanmu,” ucap Wira sebelum akhirnya pergi meninggalkanku.
Aku tak mampu lagi menahan tangis. Ingin sekali aku menahanmu pergi dan mengatakan bahwa aku menyayangimu, Wir. Tapi kurasa kata-kata itu tidak pantas kuucapkan. Kamu bilang aku begitu egois dan tidak mengerti apa yang ada di hatimu? Bagaimana aku mengerti jika kamu sendiri tak pernah mengatakannya?
Kamu membiarkanku menerka-nerka sendiri tentangmu sehingga akupun harus menyimpulkan sendiri bahwa kamu tak serius dengan perasaanmu. Dan sekarang kamu melepasku begitu saja? Tak adakah sedikit usahamu untuk menahanku? Meyakinkan bahwa kamu memang serius ingin membangun masa depan denganku?
Baiklah, Wir. Terimakasih pernah menumbuhkan harapan di hatiku. Terimakasih atas masa depan yang pernah kamu tawarkan. Semoga esok kamu akan mengerti, bukan seperti ini cara mencintai wanita.
            

#OneDayOnePost
#FebruariMembara
#17 Feb

2 komentar:

© Liana's Blog, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena