ketika aku memilih berbicara lewat tulisan...

Thursday, March 3, 2016

Nanti Saat Kau Datang



Nanti saat kau datang
Mungkin aku lupa
Akan ribuan detik yang dulu
Aku lewati dalam penantian
Saat itu aku mungkin lupa
Akan semua tangisku
Memohon kesabaran akan hadirmu
Aku akan lupa
Tentang semua rasa sakit
Yang pernah ada di masa laluku
Nanti saat kau datang
Pasti kau lah orang
Yang akan sabar mendampingiku
Tulus meredam egoku
Ikhlas menegurku
Berjuang bersama mengharap rahmat-Nya
Dan aku masih menanti
Saat kau datang…


#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari


Read More

Wednesday, March 2, 2016

Yang tabah ya (jomblo) single !



Yang tabah ya jomblo single !

Jomblo? Hmfttt…
Itu bahasa dari mana sebenernya? Kenapa harus ada istilah jomblo? Status jomblo? Emang ada? Kayaknya status di KTP cuma ada dua, MENIKAH dan BELUM MENIKAH…iya kan? Terus apa yang salah dengan kami yang jomblo single ini? *manyun
Buat yang masih abegeh pasti sebagian besar ngerasa kalo jomblo itu momok, jadi bahan bully-an, malu-maluin,…iya? Hadeuh…kalian salah, asli salah !
Jomblo itu keren, men ! serius ! Dengan jomblo kalian bakal fokus sama sekolah, fokus perbaiki diri, fokus siapin masa depan, daann yang pasti itu bukti sayang kalian sama orang tua.
Loh? Kok orang tua? Iya dong, dengan jomblo kita gak bakal bawa orang tua di akhirat kelak saat Allah minta pertanggungjawaban atas tindakan pacaran. So, walaupun mungkin orang tua kita gak ngelarang pacaran itu gak jadi alasan buat kita tetep pacaran ya?
Sebagian orang tua kita mungkin gak ngelarang anaknya pacaran karena menganggap pacaran adalah hal yang lumrah. Tapi, kita harus ingat kalo yang ngelarang kita pacaran adalah Allah dan Rasulullah :’)
Saya memang gak belum alim-alim banget. Saya juga pernah nyemplung ke dalam dunia pacaran. Dan jujur saya nyesel :’)
Buat nguatin kita, saya saranin banyakin baca buku agama dan bergaul dengan teman-teman yang jomblo sama-sama berusaha menjaga diri juga.
So, buat kita para jomblo single…yang tabah ya ! terus perbaiki diri, mohon penguatan, keihklasan, kesabaran, ketabahan dalam menunggu keputusan terbaik dari-Nya. Selalu yakin dengan janji-Nya, bahwa Dia akan memberikannya di waktu dan dengan orang yang tepat. Tetap semangat dan terus berikhtiar ya jomblo single ! *TeriakSambilNgusapMata

#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari
Read More

Tuesday, March 1, 2016

Aduh, nak ! kau mengganggu saja



                Aku melenggang menuju teras. Aku ingin menyambut senja hari ini di sana. Teras rumah adalah salah satu sudut rumah favoritku. Di halaman rumah ada bermacam-macam tanaman yang dirawat oleh istriku. Meski bukan batako atau paving, hanya tanah yang ditutup dengan batu-batu kecil. Tapi aku suka, itu ide istriku juga. Katanya biar terlihat asri dan tetap bisa menyerap air hujan.
            “Monggoh, mas (silahkan, mas),” tiba-tiba istriku datang dengan menyuguhkan kopi dan pisang goreng.
            “Nggih, ndo (iya, ndo),” aku tersenyum. Aku berusaha memberikan senyum termanis untuk istriku, semoga senyumku benar-benar manis.
            “Sluurrppp…mantaapp…” aku memandang istriku, ia tersenyum. Memamerkan barisan giginya yang rapi dan lesung di kedua pipinya.
            “Ahai !  manis sekali,” pujiku dalam hati.
Aku bak burung terbang, melayang dibuatnya. Entah kenapa istriku selalu terlihat cantik sekali di mataku. Meski kami ini bukan lagi pasangan mahmud dan pahmud alias mamah muda dan papah muda. Ya, aku masih saja malu-malu ketika harus memuji istriku. Ia pun demikian, dari dulu dia hanya bisa tersenyum lalu memunduk tiap aku memujinya.
“Gak terasa ya ndo, kita sudah dua puluh tahun bersama. Aku bahagia sekali ndo hidup denganmu, sungguh..” aku pasang wajah serius. Istriku tertawa dan tetap manis.
“Kok ketawa toh ndo?” aku bingung, kenapa dia tidak bilang kalau aku ini so sweet sekali.
“Mas ini lho lucu sekali. Mas mau pasang muka serius semaksimal apapun tetap saja tetap lucu dilihat. Kenapa mas gak jadi komika saja?” bidadariku tertawa lagi.
“Kamu ini, ndo..” aku mengajak-acak rambut belakangku, melirik pisang goreng di piring.
Awalnya aku berniat mengambil satu potong pisang goreng itu. Tapi entah kenapa aku lebih tertarik meraih tangan perempuan yang ada di sampingku. Kugenggam lembut jemarinya, kucium punggung tangannya.
“Ndo, kamu itu cantik. Bahkan sampai detik ini. Bertambahnya usia tak membuat kecantikanmu berkurang. Kadang mas mikir, Allah kok baik banget sama mas ya? Mas di anugerahi istri yang cantik dan baik seperti kamu,
“Mas bukan anak presiden, anak menteri, anak pejabat, anak orang kaya. Mas tahu dulu bukan hanya mas yang menginginkan kamu menjadi pendamping hidup. Banyak lelaki yang pasti jauh lebih mapan dari mas, iya toh?” kutatap kedua matanya yang belo.
“Bukan aku yang milih kamu, mas. Allah yang pilihin kamu buat aku. Bukankah jika Allah menghendaki kedua orang untuk bersama, Dia akan memberikan rasa pada keduanya?
“Aku juga bahagia hidup dengan kamu. Belum tentu aku sebahagia ini kalau sekarang aku menikah dengan mereka yang waktu itu lebih mapan dari kamu, mas…
“Kamu yang terbaik akhlaknya diantara mereka, mas. Kamu selalu ingetin aku sama Allah. Bersamamu, aku semakin dekat dengan Allah. Meskipun tidak semua yang aku inginkan ada di kamu, tapi kamu punya semua yang aku butuhkan, mas..” katanya.
Melelehlah sudah hatiku, ingin sekali aku memeluknya saat itu tapi aku malu kalau ada yang lihat. Ya…meskipun halaman rumahku di pagar, tetap saja kalau Pak RT lewat beliau tetap bisa lihat.
“Pak, flashdisk yang kemarin bapak pinjam mana? Mau Rena pakai.” Tanpa permisi Rena putriku tiba-tiba muncul dari dalam rumah.
Spontan aku melepas genggaman tanganku, menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Kulihat istriku hanya senyum-senyum. Iya sepertinya aku terlihat culun sekali. Kuteguk lagi kopi hitam di cangkir putih itu.
“Iya ada di kamar, sebentar bapak ambilkan..” aku beranjak, setelah menyunggingkan senyum pada cantikku.
“Aduh, nak ! kau mengganggu saja...” omelku dalam hati.


#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari



           
           
Read More

© Liana's Blog, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena